Akankah virus Nipah menjadi COVID-19 berikutnya?

Ingat COVID-19, virus yang membuat aset global ketakutan?
Virus ini memicu empat kali penghentian perdagangan sementara (circuit breaker) di pasar saham AS dalam waktu dua minggu.
Bitcoin mengalami penurunan drastis pada 12 Maret.
Harga minyak mentah berjangka anjlok hingga -$37,63 USD.
…Dalam beberapa hari terakhir, virus Nipah, dengan tingkat kematian yang bahkan lebih tinggi, telah merebak di India.
Tidak ada vaksin, dan virus ini tetap tidak dapat disembuhkan, dengan tingkat kematian 40% - 75%.
Meskipun virus Nipah tidak terlalu menular, virus ini memiliki risiko sebagai berikut:
1. Masa inkubasi yang panjang: Masa inkubasi untuk Nipah dapat mencapai 45 hari, artinya individu yang terinfeksi mungkin tanpa sadar membawa virus tersebut saat melakukan perjalanan jarak jauh.
2. Risiko mutasi: Nipah adalah virus RNA dengan tingkat mutasi yang tinggi. Para ilmuwan khawatir virus ini dapat bermutasi sehingga memiliki kemampuan yang lebih kuat untuk menyebar dari orang ke orang (misalnya, melalui udara).
3. Jangkauan inang yang luas: Inang alaminya, kelelawar buah, tersebar luas di Asia Tenggara, Afrika, dan Australia. Dengan kerusakan habitat yang disebabkan oleh perubahan iklim dan urbanisasi, risiko penyakit zoonosis terus meningkat.
Mungkinkah virus Nipah menjadi COVID-19 berikutnya?
Dalam jangka pendek: Tidak mungkin. Selama virus Nipah belum bermutasi untuk mengembangkan kemampuan penularan melalui udara yang sangat efisien, kemungkinan besar virus ini akan menjadi "ancaman lokal yang mematikan" daripada "kebakaran hutan" global.
Dalam jangka panjang: Sangat bervariasi. Virus Nipah dianggap sebagai salah satu kandidat untuk "Penyakit X."