Henti… henti… henti sejenak. Perhatian Anda dibutuhkan hanya selama 5 menit.
🚨 Perubahan besar mungkin sedang terjadi dalam perang modern.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa Angkatan Laut Amerika Serikat telah mulai mengerahkan sistem senjata energi terarah yang dikenal sebagai HELIOS Directed Energy Weapon dari kapal perusak untuk melawan ancaman udara seperti drone. Berbeda dengan interceptor misil tradisional yang dapat menghabiskan biaya jutaan dolar per peluncuran, sistem ini beroperasi menggunakan listrik yang dihasilkan di atas kapal.
Perkembangan ini bisa secara signifikan mengubah ekonomi pertahanan udara modern.
Saat ini, drone berbiaya rendah—sering kali dihargai sekitar $20.000 hingga $30.000—sering digunakan untuk mengalahkan sistem pertahanan yang mahal. Sebaliknya, misil interceptor tradisional dapat menghabiskan biaya di mana saja antara $3 juta dan $10 juta per tembakan. Ketidakseimbangan ini telah memungkinkan kawanan drone yang relatif murah untuk menantang pertahanan militer yang sangat maju.
Sistem energi terarah seperti HELIOS bisa mengubah perhitungan itu.
Karena senjata laser terutama bergantung pada daya listrik daripada amunisi fisik, biaya per tembakan sangat berkurang. Selama kapal memiliki daya, sistem dapat terus menembak tanpa perlu pengisian ulang yang konstan.
Jika teknologi ini terbukti dapat diandalkan dan dapat diskalakan, implikasinya bisa signifikan:
• Strategi kawanan drone mungkin menjadi jauh kurang efektif
• Sistem pertahanan udara bisa menjadi jauh lebih murah untuk dioperasikan
• Kapal angkatan laut bisa mempertahankan kemampuan pertahanan yang berkelanjutan tanpa batasan amunisi
• Struktur biaya keseluruhan dari perang drone bisa berubah
Senjata energi terarah telah diteliti selama beberapa dekade, tetapi penggunaan operasionalnya yang semakin meningkat di laut mungkin menandakan awal fase baru dalam teknologi pertahanan militer.
Ini adalah perkembangan yang layak untuk diperhatikan dengan seksama di tahun-tahun mendatang.




